Malam Terakhir
Malam Terakhir
by ayun permata
“Kalau kamu punya istri, kamu mau panggil dia Bunda, nama, atau Sayang?” celetukku di sela makan malam kami.
Seketika aku menyesali pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Rasa kantuk ini malah membuatku terdengar semakin konyol dan mulai meracau tak jelas. Keheningan di antara kami menjalar hingga ke udara malam selepas hujan. Aku bisa mendengar suara tetes air terakhir yang jatuh dari daun. Cuaca semakin dingin, aku merapatkan jaketku.
“Sayang boleh,” ucapnya, tubuhnya sedikit condong ke arahku.
Aku tersipu. Kurasakan tatapannya menembus dari balik kepalaku. Aku tak berani menatapnya, takut salah tingkah. Kusembunyikan senyumku dengan menyuapkan nasi goreng sebanyak-banyaknya ke mulutku, berharap bisa menyibukkan diri.
“Kenapa nggak panggil nama saja?”
Lagi-lagi otak dan mulutku tak sejalan. Aku kembali merutuki diriku, berharap ia tak menjawabnya. Namun, rasa penasaran itu sudah terlanjur meluncur.
Ia mendekat, matanya menatap lurus menembus kedua mataku yang tersembunyi di balik helai rambut. “Nggak apa-apa, maunya panggil Sayang saja.”
Kali ini aku benar-benar salah tingkah. Entah mengapa kata Sayang yang meluncur dari bibirnya terdengar begitu menggelitik di telinga. Nasi goreng yang kunikmati malah membuatku semakin konyol karena tersangkut di tenggorokanku. Rasa panas menjalar hingga ke hidung. Aku tak kuasa menahan batuk. Ia segera menyodorkan minum ke arahku, dan kuraih tanpa ragu. Sepertinya penjual nasi goreng dan bakso di seberang jalan sukses menjadi saksi bisu kekonyolanku malam ini.
“Makannya pelan-pelan aja, aku tungguin kok,” ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Aku menyerah. Akhirnya kuberanikan diri menatap wajahnya. Matanya yang teduh selalu membuat dadaku tergelitik. Baru kusadari, ternyata matanya sangat indah jika dilihat dari jarak sedekat ini. Bulu matanya panjang dan lentik, alisnya tebal dan rapi. Sebuah keheningan manis tercipta di antara kami. Namun, aku tak ingin lama-lama menatap kedua mata itu. Akhirnya kualihkan pandangan ke depan, membereskan piringku dan piringnya, lalu beranjak.
“Ayo pulang.” Kusampirkan tas ransel di pundakku dan hendak membayar makanan kami, tapi ia sudah mendahuluiku. Ia tak mau diganti, jadi diam-diam kuselipkan uang dua puluh ribu ke saku jaketnya.
Perjalanan kami setelah itu lebih banyak diisi diam. Mungkin karena lelah, atau mungkin karena pikiran kami melayang entah ke mana. Suara deru motor di kejauhan sesekali melintas pelan di atas trotoar yang basah, memecah sunyi malam. Terlalu banyak kemungkinan yang berkelebat di benakku hingga tak kusadari kami sudah setengah jalan. Aku mendongak, kulihat bulan purnama terus mengikuti kami. Yah, setidaknya bukan hanya kami berdua yang berada di tengah jalan malam ini. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikiranku.
Sedikit lagi kami sampai, tapi tak satu pun dari kami bersuara. Bahkan jangkrik malam pun seakan minder dan ikut bersembunyi. Hanya suara deru motor dan desah angin malam yang menemani perjalanan kami. Hingga akhirnya kami tiba di depan rumahku. Aku turun dari motornya, sengaja memperlambat gerakanku seolah mencari cara untuk memperpanjang waktu yang tersisa. Ia pun terlihat salah tingkah dan berpura-pura mengelap spionnya yang berembun.
Aku tak ingin ini jadi malam terakhir kami bersama. Aku masih ingin berbincang dengannya, menikmati lampu malam kota Surabaya yang selalu memberi kesan romantis. Namun, semesta benar-benar bekerja dengan rajin, memisahkan manusia untuk dipertemukan dengan manusia lainnya—begitu terus siklusnya. Udara malam terasa semakin dingin, tapi anehnya pipiku menghangat. Jantungku berdebar pelan, berusaha memutar otak mencari topik pembicaraan. Namun, nihil. Kuputuskan untuk menjabat tangannya sebagai tanda perpisahan. Ia menyambutnya dengan hangat.
Untuk beberapa detik, waktu seakan melambat. Untuk terakhir kalinya, kutatap kedua mata cokelat itu dalam-dalam. Aku tak tahu kapan bisa melihatnya lagi, dan tanpa sadar, mulutku bergumam pelan,
“Kayaknya aku jatuh cinta lagi sama kamu.”