Reset Indonesia, Membangun Ulang Arah Bangsa
Reset Indonesia, Membangun Ulang Arah Bangsa
Oleh: Annisa Annastia Azzahra
Indonesia menghadapi ketimpangan sosial, korupsi, degradasi lingkungan, serta rendahnya daya saing global. Kondisi ini menjadi cermin bahwa bangsa perlu dibenahi secara mendasar. Konsep Reset Indonesia hadir sebagai gerakan menyeluruh untuk memperbaiki sistem politik, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan agar lebih berpihak pada rakyat.
Pada sektor politik, demokrasi yang seharusnya memberi ruang partisipasi rakyat sering terjebak dalam praktik oligarki. Politik uang, lemahnya integritas partai, serta rendahnya kualitas representasi rakyat menuntut adanya koreksi serius. Reset politik berarti memperkuat transparansi, mendorong kepemimpinan etis, dan menjamin partisipasi publik yang substantif, bukan sekadar simbolik.
Di bidang ekonomi, reset diperlukan untuk membangun struktur yang lebih adil dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi selama ini terkonsentrasi di kota besar, sementara wilayah perbatasan masih tertinggal. Akses kerja, distribusi sumber daya, dan penguatan ekonomi lokal harus diperbaiki. Reset ekonomi juga menekankan pentingnya kemandirian, terutama dalam sektor pangan dan energi.
Pendidikan dan kebudayaan turut menjadi fokus reset. Pendidikan yang selama ini berorientasi pada angka kelulusan belum sepenuhnya melahirkan generasi kritis, kreatif, dan berintegritas. Reset pendidikan berarti membangun sistem yang humanis dengan menekankan etika, literasi, dan inovasi. Sejalan dengan itu, kebudayaan perlu diberi ruang sebagai kekuatan pemersatu bangsa, bukan sekadar simbol seremonial.
Tanpa keseriusan dalam menjalankan reset ini, Indonesia berisiko terjebak dalam stagnasi. Namun dengan komitmen bersama, Reset Indonesia dapat menjadi momentum lahirnya bangsa yang lebih adil, demokratis, dan berdaya saing global.
Editor: Ayun Permata Syahrir