Memori Asing oleh Azzahidatul 'Ulya
Memori Asing
oleh Azzahidatul 'Ulya
“Kamera udah, lensa udah, semuanya udah, apalagi ya?” ujar seorang laki-laki di studio fotonya.
Merasa ada yang janggal ia langsung melirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. “Aduh, udah jam segini semoga aja nggak telat.” Ia kemudian bergerak cepat meraih tas ranselnya.
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui jendela kaca gedung. Sampailah ia di gedung pernikahan yang akan menjadi tempatnya bertugas hari ini. Musik lembut mengalun, tamu-tamu mulai berdatangan, menandakan acara akan segera dimulai. Momen bahagia ini terabadikan dalam setiap jepretan kamera milik Reza, seorang fotografer pernikahan dengan segudang pengalaman yang menjadikannya fotografer terkenal dan paling laris di daerahnya.
“Reza, habis ini minta tolong foto pengantin di pelaminan, ya. Mumpung tamu undangan belum ada yang mau ke atas lagi. Tapi kita nggak ada waktu banyak,” ujar Rani, wedding organizer yang sudah seperti rekan kerja tetap baginya.
“Oke, siap, Mbak,” jawab Reza sambil mengganti lensa kameranya. Ia kemudian mengambil posisi, siap membidik pasangan pengantin yang saling menatap dengan mata penuh cinta.
“Siap, ya. Satu … dua … tiga …”
Klik. Klik. Klik.
Beberapa momen telah terpotret sempurna di kamera Reza. Tapi kini, jepretan terakhir—saat ia menekan tombol rana—semuanya berubah.
Bunyi musik menghilang. Dekorasi dan warna cerah gedung pernikahan memudar menjadi kelabu. Ia berdiri di ruangan yang tampak seperti aula pernikahan yang sama, tetapi sepi dan sunyi. Meja-meja kosong. Tak ada pengantin. Tak ada siapa pun.
“Mbak Rani? Mbak …” Ia bingung, mencoba memanggil nama Rani yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Tidak ada jawaban. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, berharap ada seseorang yang sedang bersamanya.
Reza berusaha menyalakan kembali kameranya yang mati. Namun, yang muncul justru foto yang asing baginya—bukan pengantin yang ia potret hari ini, tetapi orang lain. Seorang perempuan muda, mengenakan kebaya mewah berwarna biru emerald, dengan rambut disanggul.
“Siapa ini?” bisik Reza saat melihat banyaknya foto perempuan tersebut di dalam kameranya.
Tiba-tiba, suara pelan terdengar di belakangnya. “Kamu tidak ingat aku, ya?”
Reza berbalik, kaget. Ya, itu adalah suara perempuan yang sama dengan yang ada di dalam kameranya.
“Siapa kamu?” tanya Reza lagi. Jantungnya berdetak tak beraturan.
“Kamu pernah memotretku ... delapan tahun yang lalu,” jawab perempuan itu.
Reza mengerutkan dahi, merasa tidak pernah memotret perempuan tersebut. “Aku tidak ingat. Aku memotret banyak orang.”
“Kamu adalah orang yang mengambil foto terakhirku di sini, sebelum aku pergi,” ucap perempuan itu.
Reza menelan ludah. “Ini … mimpi, bukan?”
“Kamu sedang melihat memori yang tertinggal. Bukan milikmu, tapi milikku,” bisik perempuan tersebut.
“Kenapa aku bisa di sini?” tanya Reza, masih kebingungan.
“Kamu menekan rana di saat yang salah. Di titik di mana waktu dan kenangan bertumpuk dan terjadi secara bersamaan,” ujar perempuan itu.
“Bagaimana caranya keluar? Aku harus menyelesaikan tugasku.”
Perempuan itu tersenyum, tapi bukan senyum yang menenangkan. “Ya, tugasmu adalah menemukan kenangan yang benar. Foto yang seharusnya kau ambil.”
Reza mulai panik. Ia melihat sekeliling, seperti berada di dalam galeri mimpi yang tak bisa dipahami. Ia kembali mengutak-atik kamera, lalu menekan tombol galeri. Puluhan foto muncul. Semua menampilkan wajah perempuan yang sama. Di gedung tersebut—tempat ia sekarang berdiri bersama perempuan itu—dan tempatnya bertugas memotret hari ini.
Reza kembali menatap wanita itu dengan hati-hati. “Kamu hantu, ya?” tanya Reza lirih.
“Bukan. Aku kenangan. Dan kenangan tidak akan pergi ... sebelum dikenang dengan benar.”
Tiba-tiba, Reza teringat. Sebuah sesi foto bertahun-tahun lalu. Seorang klien yang tak pernah mengambil hasil fotonya. Ia merasa namanya ... Dinda.
Saat itu, Reza masih tergolong fotografer baru. Namun, ia lupa mencetak foto Dinda tepat waktu. Esok harinya, perempuan itu dikabarkan hilang karena kecelakaan tunggal yang menyebabkan kepergiannya untuk selamanya. Reza tak pernah tahu wajahnya, karena di saat yang sama, data beserta kartu memori yang digunakan memotret hilang secara tiba-tiba.
“Dinda?” gumam Reza. Perempuan itu mengangguk pelan. Reza mendongak. “Aku minta maaf.”
Seketika, kameranya kembali mati. Aula kembali terisi. Suara musik perlahan muncul. Rani menepuk pundaknya.
“Reza? Kamu kenapa bengong? Ini udah ditungguin” omel Rani.
Reza mengerjap. Ia kembali di gedung pernikahan dengan pengantin yang masih tersenyum di pelaminan.
“Tadi ...”
“Kenapa? Kamu kelihatan pucat banget,” tanya Rani cemas.
Reza menyalakan kembali kameranya. Tak ada satu pun foto Dinda di dalamnya. Hanya jepretan hasil foto pengantin hari itu. Ia menghela napas. “Enggak, cuma … kayak déjà vu aja.”
Rani tertawa kecil. “Kamu kurang tidur kali.”
Untung saja hari itu Reza hanya ada satu klien. Ia langsung bergegas menuju studio fotonya untuk membuka folder lama di laptopnya. Ia mencari-cari dan akhirnya menemukan satu file foto yang sebenarnya rusak, tetapi ternyata bisa dibuka. File tersebut berjudul Dinda.jpg.
Ia membuka file tersebut. Muncul gambar yang kabur, tapi perlahan memunculkan wajah samar Dinda. Kali ini, Reza menyimpan dan mencetaknya. Kemudian, ia menempelkannya di tembok yang juga memamerkan banyak foto dan to-do list hariannya.
“Maaf karena lupa,” katanya pelan. “Sekarang aku ingat.”
Dan sejak hari itu, Reza tak pernah lagi memotret tanpa rasa hormat. Karena setiap jepretan bisa menjadi lebih dari sekadar gambar. Bisa saja menjadi pintu kenangan menuju sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang tampak. Ini bukan hanya sekedar tugas dan pekerjaan semata, tetapi juga rasa tanggung jawab—meskipun sesuatu tersebut tak akan bisa kembali lagi.
Editor: Ayun Permata Syahrir