Attency of the Month: April
A. Aksi Kemah di Depan Gedung DPR
Hampir tiga pekan sejak disahkan, penolakan terhadap
Revisi Undang-Undang (RUU) TNI masih terus disuarakan. Sejumlah warga menggelar
aksi damai dengan mendirikan tenda di depan Gerbang Pancasila, Gedung DPR RI,
pada hari Senin, 7 April 2025. Tiga tenda didirikan tepat di depan gerbang besi
setinggi kurang lebih 2 meter yang membentengi Kompleks Parlemen. Tenda
berwarna merah dan hitam itu dihadapkan ke arah Jalan Gelora. Mereka terlihat
layaknya seperti sedang berkemah, ada yang saling berbincang-bincang hingga
membaca buku di dalam maupun di luar tenda. Mereka mengatakan bahwa aksi ini
digelar secara kolektif oleh masing-masing peserta sebagai masyarakat sipil
biasa. Aksi damai dengan berkemah ini bertujuan untuk menyuarakan penolakan
terhadap RUU TNI dan mendesak pemerintah serta DPR membatalkan pengesahan
beleid tersebut.
Gerakan ini bermula dari
jagat maya, diinisiasi para warganet yang berinteraksi melalui akun X,
@barengwarga. Mereka resah dengan situasi demokrasi di negeri ini yang dinilai akan
balik mundur ke era Orba. Meskipun aksi ini berlangsung secara damai, aksi
tersebut tetap mendapat respons represi dari aparat. Di antaranya, yakni
penangkapan, pembubaran aksi, hingga pembongkaran tenda warga, hal tersebut terjadi
secara berulang kali.
Pada Rabu, 9 April 2025, Satuan Polisi Pamong Praja
(Satpol PP) Jakarta pertama kalinya membubarkan sejumlah warga yang melakukan
aksi berkemah di gerbang Gedung MPR/DPR/DPD untuk menuntut pencabutan revisi UU
TNI. Sebelum akhirnya dibubarkan, para peserta aksi telah berkemah di depan
Gerbang Pancasila selama 82 jam. Kemudian pada Senin pagi, 14 April 2025,
sejumlah peserta memutuskan untuk kembali menggelar aksi piknik itu. Tenda
sebelumnya hendak didirikan tepat di depan Gerbang Pancasila DPR RI, tetapi
peserta dipaksa bergeser ke trotoar di seberangnya. Aksi piknik pun baru bisa
dimulai siang harinya. Pada Senin malam, 14 April 2025, kepolisian kembali
membubarkan aksi kemah itu. Enam orang peserta yang terdiri dari dua perempuan
dan empat laki-laki dimasukkan ke dalam mobil polisi. Penangkapan itu disebut
dilakukan tanpa proses interogasi dan tanpa pendampingan hukum. Aparat
kepolisian kembali membubarkan aksi kemah di
seberang Gerbang Pancasila DPR, Jakarta Pusat, pada Senin, 21 April 2025.
Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Susatyo Purnomo
Condro membenarkan bahwa polisi telah meminta peserta aksi untuk membubarkan
diri.
B. TNI Masuk Kampus
Universitas Udayana mengesahkan perjanjian kerja sama
dengan Kodam IX/Udayana. Dokumen tersebut ditandatangani pada Rabu, 5 Maret
2025, tetapi baru diumumkan ke publik melalui akun Instagram resmi Universitas
Udayana pada Rabu, 26 Maret 2025. Ada beberapa klausul yang diatur dalam
dokumen yang terdiri dari 20 Pasal tersebut. Misalnya, kerja sama peningkatan
sumber daya manusia, pertukaran data dan informasi, hingga pelatihan bela
negara. Dalam dokumen kerja sama disebutkan bahwa Universitas Udayana memberikan
kewenangan pada Kodam IX/Udayana untuk menggelar pelatihan bela negara dan
pembinaan teritorial di lingkungan kampus.
Rektor Universitas
Udayana I Ketut Sudarsana menyatakan bahwa kerja sama kampusnya dengan
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) Komando Daerah
Militer IX/Udayana tak akan serta-merta membawa militerisme ke lingkup kampus.
Sudarsana mengklaim pelaksanaan kerja sama tersebut tidak akan menganggu
independensi kampus dan akan disesuaikan dengan prinsip-prinsip Tri Dharma
Perguruan Tinggi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
(Kemendiktisaintek) juga menilai perjanjian kerja sama yang dijalin antara
universitas dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bisa memberikan sejumlah manfaat
edukatif bagi mahasiswa. Manfaat itu berupa penguatan nilai-nilai kebangsaan,
wawasan kebangsaan, dan kedisiplinan mahasiswa.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana
menolak adanya perjanjian kerja sama antara kampusnya dan TNI AD Kodam
IX/Udayana. Ketua BEM Universitas Udayana I Wayan Arma Surya Darmaputra menolak
perjanjian kerja sama tersebut karena khawatir dapat berpeluang bagi militer
untuk mendominasi ranah pendidikan sipil. Selain itu, ia menyebut terdapat
poin-poin yang cukup problematik dan dapat merugikan mahasiswa. Salah satunya
adalah klausul pertukaran data dan informasi antara Universitas Udayana dengan Kodam
IX/Udayana. Dalam perjanjian itu, tidak dijelaskan dengan spesifik bagaimana
ketentuan pertukaran data yang dimaksud sehingga BEM khawatir justru ada
penyalahgunaan terkait data tersebut. Pada Selasa, 8 April 2025, Rektor
Universitas Udayana (Unud) Bali, I Ketut Sudarsana mengatakan akan membatalkan
perjanjian kerja sama (PKS) dengan Komando Daerah Militer (Kodam) IX/Udayana.
C. Pertemuan Presiden Prabowo dengan Sejumlah Jurnalis
Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan 7 jurnalis
dari 7 media berbeda di Hambalang, Jawa Barat pada Ahad, 6 April 2025. Ketujuh
jurnalis tersebut mewawancarai Prabowo secara bersama-sama. Momen wawancara itu
dibagikan Prabowo melalui akun Instagram miliknya @Prabowo pada Ahad, 6 April
2025. Dalam kesempatan itu, Prabowo menjawab sejumlah pertanyaan berkaitan
dengan isu terkini. Beberapa jurnalis senior yang hadir, di antaranya yaitu
pemimpin redaksi (Pemred) detikcom Alfito Deannova Gintings, Pemred tvOne Lalu
Mara Satriawangsa, Pemred IDN Times Uni Lubis, dan Founder Narasi Najwa Shihab.
Ada pula Pemred Harian Kompas Sutta Dharmasaputra, Pemred SCTV-Indosiar Retno
Pinasti, dan News Anchor TVRI Valerina Daniel sebagai moderator.
Diskusi Prabowo dengan tujuh jurnalis berlangsung cukup
tegang, pembahasan isu terkini dimulai dari pertanyaan-pertanyaan dari sejumlah
jurnalis. Beberapa isu yang menjadi
bahan pembahasan adalah nilai tukar rupiah, perkembangan IHSG, hingga kebijakan
fiskal pemerintah. Terdapat juga pembahasan mengenai UU TNI dan keputusan
Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif dagang terhadap Indonesia. Pertemuan
tersebut juga sempat membahas program Makan bergizi Gratis (MBG), harga
kebutuhan pokok usai lebaran, bantuan insentif pemerintah hingga harga BBM.
D. Kasus Pelecehan oleh Dokter PPDS
Seorang dokter peserta Pendidikan Profesi Dokter
Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Dalam di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung,
Dr. Priguna Sidharta, dilaporkan ke polisi atas dugaan pelecehan seksual
terhadap pasien perempuan. Menurut laporan, kejadian terjadi pada 10 dan 16
Maret 2025 saat korban menjalani pemeriksaan di Poli Penyakit Dalam RSHS.
Korban diarahkan menuju ruangan baru. Saat itulah pelaku menjalankan aksinya
dengan memasukan zat midazolam pada infus pasien. Setelah melalui pertimbangan,
korban akhirnya melapor ke kepolisian. Pada 23 Maret 2025, para pelaku tindakan
keji ini berhasil ditangkap.
Dalam perkembangan
terbaru, Polda Jawa Barat mengungkapkan tersangka Priguna diduga telah
memerkosa tiga korban dalam waktu yang berdekatan dengan menggunakan obat bius.
Atas perbuatannya, dia dikenakan Pasal 64 KUHP dan terancam pidana penjara
maksimal 17 tahun penjara. Sementara itu, Kementerian Kesehatan akan mewajibkan
peserta PPDS menjalani tes kesehatan mental untuk mengantisipasi masalah
kejiwaan, sebab klaim polisi tersangka terindikasi punya kelainan perilaku
seksual.
Sejumlah pengamat
kesehatan masyarakat menyebut kasus yang terjadi di RSHS Bandung telah
mencoreng dunia kedokteran dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap
tenaga medis serta rumah sakit. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat
Indonesia (IAKMI), Dedi Supratman, mengatakan publik pasti akan menaruh curiga
kepada dokter yang menangani mereka kala berobat. Apalagi kalau sampai ada
tindakan pembiusan. Pendiri Center for Indonesia's Strategic Development
Initiatives (Cisdi), Diah Saminarsih, juga sependapat. Ia mengatakan situasi
itu memang tak bisa terhindarkan.
E. Konten Wakil Presiden Gibran
Dalam video monolog berdurasi 6 menit 20 detik yang
berjudul "Generasi Muda, Bonus Demografi dan Masa Depan Indonesia",
diunggah di kanal YouTube pribadinya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka
membahas tentang bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada periode
2030-2045. Menyampaikan pandangannya soal tantangan global yang dihadapi
Indonesia, mulai dari isu perang dagang, ketegangan geopolitik, krisis iklim,
hingga perkembangan teknologi yang pesat seperti kecerdasan buatan (AI). Gibran
menyebut bahwa dalam periode tersebut, sekitar 208 juta penduduk Indonesia akan
berada dalam usia produktif.
Dalam video yang diunggah ke kanal YouTube pribadinya
pada 19 April 2025, Gibran mengajak generasi muda untuk menjadi bagian penting
dari pembangunan bangsa. Menurutnya, generasi muda bukan hanya sekadar bonus,
tetapi juga sebagai jawaban atas berbagai tantangan masa depan Indonesia.
Hingga minggu 27 April 2025 Video ini telah di tonton lebih dari 1,3 Juta kali.
Video ini menuai banyak respons beragam dari warganet, tetapi sebagian besar
merespons negatif. Hal ini dapat terlihat dari besarnya jumlah dislike dan
isi dari kolom komentar video. Banyak warganet yang menilai pesan yang
disampaikan Gibran tidak menawarkan gagasan baru dan cenderung mengulang narasi
yang sudah sering disampaikan oleh pemimpin terdahulu.
Sejumlah pengamat turut memberikan tanggapan.
Jamiluddin Ritonga sebagai pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul
menilai bahwa Gibran ingin memberikan kesan bahwa putra sulung Joko Widodo
(Jokowi) itu layak menduduki posisi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Sementara itu, Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah, Adi Prayitno berpendapat gagasan yang disampaikan Gibran soal
bonus demografi masih sebatas mengulang narasi klasik yang sudah sering dibahas
oleh para pemimpin sebelumnya. Menurut Adi, Gibran belum menawarkan ide baru
yang berbeda dari wacana bonus demografi yang sudah ada, sehingga diperlukan
langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi tersebut, bukan hanya menyampaikan
ulang cerita lama.
F. Tugu Titik Nol IKN
Proyek Ibu kota negara (IKN) kembali heboh, kali ini
dengan keanehan di tugu titik nol. Dalam tugu tersebut terselip tulisan “Lorem
Ipsum Dolor Amet Consectetuer Adipiscing Elit”. Mengutip Britannica, “Lorem
Ipsum” adalah teks tiruan yang digunakan dalam penyusunan huruf dan desain
grafis untuk pratinjau tata letak. Teks ini menampilkan teks Latin yang diacak,
yang menekankan desain daripada konten tata letak. Ini adalah teks placeholder
standar industri percetakan dan penerbitan.
Keberadaan kalimat tersebut di papan Tugu Titik Nol IKN
pun langsung menjadi perbincangan warganet. Banyak yang mempertanyakan kenapa
tulisan yang seharusnya hanya teks sementara itu bisa terpasang di lokasi resmi
tanpa pengecekan yang memadai dari pihak terkait. Pelaksana Tugas Deputi Bidang
Sarana dan Prasarana Otorita IKN, Danis Hidayat Sumadilaga, memberikan
klarifikasi bahwa tulisan tersebut memang merupakan teks pengisi sementara. Danis
menambahkan bahwa bagian yang sebelumnya memuat tulisan tersebut nantinya akan
diganti dengan penjelasan mengenai sejarah dan asal mula pembangunan IKN.
Menurutnya, saat ini narasi resmi tersebut masih dalam proses penyusunan oleh
Otorita IKN.
Adapun, dalam rapat dengan Komisi II, Anggota Komisi II
DPR RI Fraksi PKB Muhammad Khozin menyinggung masalah tulisan “Lorem Ipsum
Dolor Amet” di tugu titik nol Ibu Kota Nusantara (IKN) ini. Khozin mengingatkan
OIKN agar melakukan komunikasi yang baik terkait dengan publikasi. Dalam foto
terbaru yang dibagikan oleh Otorita, tampak papan tersebut telah ditutup dengan
plastik berwarna biru untuk sementara waktu. Danis juga menyebutkan bahwa
stiker dengan narasi resmi saat ini sedang dalam tahap produksi.
REFERENSI
Akbar, N. A. (2025). Monolog Gibran Soal Bonus
Demografi Dapatkan 108 Ribu Dislike. Kompas.Com.
https://nasional.kompas.com/read/2025/04/23/13431541/monolog-gibran-soal-bonus-demografi-dapatkan-108-ribu-dislike
Berikut Isi Pembahasan Presiden Prabowo
Subianto Dengan 6 Pemred.
(2025). Newsantara.Id.
https://newsantara.id/berikut-isi-pembahasan-presiden-prabowo-subianto-dengan-6-pemred/
Gabriela, M. (2025). Gibran Bicara
Soal Bonus Demografi: Giliran Kita Mengambil Peran. Tempo.
https://www.tempo.co/politik/gibran-bicara-soal-bonus-demografi-giliran-kita-mengambil-peran-1234223
Imanuel, V. (2025). Kerja Sama dengan
TNI AD, Rektor Universitas Udayana: Bukan Militerisme. Tempo.
https://www.tempo.co/politik/kerja-sama-dengan-tni-ad-rektor-universitas-udayana-bukan-militerisme-1226693
Madjid, Z. (2025). Ditegur DPR, OIKN
Buka Suara Soal Tugu “Lorem Ipsum” di IKN. CNBC Indonesia.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20250422150809-4-627816/ditegur-dpr-oikn-buka-suara-soal-tugu-lorem-ipsum-di-ikn/amp
Menjaga Asa Perlawanan Lewat Camping
Bareng Warga. (2025). KBRprime.
https://kbrprime.id/podcast/saga/menjaga-asa-perlawanan-lewat-camping-bareng-warga-53803
Nefi, A. (2025). Kemendiktisaintek
Sebut Kerja Sama Kampus dan TNI Tingkatkan Upaya Bela Negara. Tempo.
https://www.tempo.co/politik/kemendiktisaintek-sebut-kerja-sama-kampus-dan-tni-tingkatkan-upaya-bela-negara-1226992
Penjelasan Otorita IKN Soal Tugu
Bertuliskan “Lorem Ipsum.”
(2025). DetikSumut.
https://www.detik.com/sumut/berita/d-7878105/penjelasan-otorita-ikn-soal-tugu-bertuliskan-lorem-ipsum
“Saya trauma ditangani dokter laki-laki”
– Kasus dugaan pemerkosaan oleh dokter PPDS anestesi picu ketidakpercayaan
terhadap tenaga medis.
(2025). BBC News Indonesia.
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8rge3zzvxzo.amp
Setyawan, H. (2025). Video Monolog
Gibran Panen Dislike dan Hujatan, Warganet: Kosongnya Natural.
BicaraNetwork.Com.
https://www.bicaranetwork.com/nasional/29515016250/video-monolog-gibran-panen-dislike-dan-hujatan-warganet-kosongnya-natural
Sutrisna, T. (2025). Warga Kembali
Berkemah di Depan DPR, Terus Suarakan Penolakan RUU TNI. Kompas.Com.
https://nasional.kompas.com/read/2025/04/07/15583601/warga-kembali-berkemah-di-depan-dpr-terus-suarakan-penolakan-ruu-tni?page=all
Trikarinaputri, E. (2025). Polisi
Bubarkan Aksi Piknik Melawan di Depan Gedung DPR. Tempo.
https://www.tempo.co/politik/polisi-bubarkan-aksi-piknik-melawan-di-depan-gedung-dpr-1233942
Tugu IKN Bertuliskan “Lorem Ipsum”, Apa
Itu dan Bagaimana Sejarahnya?
(2025). CNN Indonesia.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20250421102441-199-1220720/tugu-ikn-bertuliskan-lorem-ipsum-apa-itu-dan-bagaimana-sejarahnya
Yusrial, M. R. (2025). Mengapa BEM
Univesitas Udayana Tolak Kerja Sama Kampusnya dengan TNI AD? Tempo.
https://www.tempo.co/politik/mengapa-bem-univesitas-udayana-tolak-kerja-sama-kampusnya-dengan-tni-ad--1227761
[Departemen
Kajian Strategis, 2025]
Himpunan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Kabinet
Tinta Pena