AMATI - Global Conflict, Local Impact: Dampak Perang bagi Indonesia
Latar Belakang:
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 2026 merupakan salah satu eskalasi geopolitik paling signifikan di abad ke-21. Berawal dari kebuntuan negosiasi nuklir, konflik ini berkembang menjadi perang terbuka yang pecah pada 28 Februari 2026. Perang ini tidak hanya mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, tetapi juga memengaruhi tatanan diplomatik dan politik global, termasuk hubungan antarnegara, legitimasi hukum internasional, serta keseimbangan geopolitik dunia. Selain dimensi militer, konflik ini juga berdampak pada dinamika ekonomi global, keamanan internasional, serta arus informasi yang memicu ketidakpastian pasar dan stabilitas energi dunia. Meskipun Indonesia tidak terlibat secara langsung, dampak konflik ini tetap terasa melalui berbagai sektor, menunjukkan bahwa dinamika global memiliki efek berantai yang melampaui batas geografis.
Seiring meningkatnya eskalasi, konflik ini turut memengaruhi kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi energi dunia. Ketegangan yang terjadi dilaporkan berdampak pada gangguan pasar energi global serta meningkatkan gejolak ekonomi dan pasar. Dalam perkembangan selanjutnya, upaya diplomasi intensif menghasilkan gencatan senjata bersyarat pada 8 April 2026 selama dua pekan melalui mediasi Pakistan. Kesepakatan ini mencakup rencana negosiasi lanjutan di Islamabad dengan syarat utama pembukaan kembali Selat Hormuz serta penangguhan serangan militer oleh Amerika Serikat.
Namun demikian, gencatan senjata tersebut bersifat sementara dan masih menyimpan ketidakpastian. Iran mengajukan sejumlah syarat seperti pencabutan sebagian sanksi dan jaminan non-nuklir, sementara Amerika Serikat menekankan pembukaan penuh jalur energi di bawah mekanisme pengawasan tertentu. Hingga pertengahan April 2026, ketegangan masih berlangsung dengan potensi tidak diperpanjangnya gencatan apabila kesepakatan damai tidak tercapai. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya de-eskalasi, stabilitas kawasan masih rentan dan dampaknya tetap menjalar secara global.
Dampak Politik dan Diplomasi :
Konflik ini memperlihatkan perubahan signifikan dalam struktur diplomasi global, terutama melalui dinamika aliansi Barat yang mulai menunjukkan perbedaan sikap dalam merespons perang. Sejumlah negara seperti Spanyol dilaporkan menolak keterlibatan militer dan menarik sebagian perwakilan diplomatik, sementara negara lain tetap memberikan dukungan. Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa kohesi politik dalam aliansi Barat semakin dipengaruhi oleh kepentingan nasional masing-masing negara. Di sisi lain, konflik ini juga memperkuat peran aktor diplomatik non-Barat seperti China dan Pakistan. Mediasi Pakistan dalam gencatan senjata sementara serta peran China dalam tekanan diplomatik menunjukkan adanya pergeseran pusat kekuatan global. Selain itu, muncul kritik dari berbagai pihak terkait dugaan pelanggaran hukum internasional.
Hal ini memunculkan perdebatan serius soal hukum internasional. Lebih dari 100 ahli hukum internasional menandatangani surat terbuka yang menyatakan keprihatinan mendalam atas pelanggaran serius, termasuk pembunuhan pemimpin politik tanpa peran militer langsung dan serangan terhadap infrastruktur sipil. Mantan Jaksa Agung ICC bahkan menyebut ancaman AS untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran berpotensi merupakan kejahatan perang berdasarkan Statuta Roma, yaitu sebuah tuduhan yang sebelumnya lebih sering diarahkan kepada negara-negara otoriter. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketidakpastian dalam penerapan hukum internasional, yang dapat berdampak pada posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung prinsip hukum dan multilateralisme dalam hubungan global.
Dampak Ekonomi Indonesia :
Eskalasi konflik global turut memicu ketidakpastian ekonomi yang berdampak langsung pada negara-negara lain, termasuk Indonesia. Sebagai bagian dari sistem ekonomi global, Indonesia tidak terlepas dari tekanan pasar, fluktuasi energi, dan perubahan sentimen investor.
Kenaikan Harga Minyak Dunia
Eskalasi konflik Iran vs AS membuat pasar khawatir pasokan energi terganggu, sehingga harga minyak dunia melonjak. Indonesia ikut terdampak karena masih bergantung pada impor energi. Kondisi ini dapat memicu kenaikan biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang di dalam negeri. Indonesia juga rentan karena masih berstatus net importir energi dan sangat sensitif terhadap gejolak harga minyak global, sehingga perubahan kecil di pasar internasional bisa langsung terasa di dalam negeri.
Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah
Saat harga minyak naik dan ketidakpastian global meningkat, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS. Akibatnya, rupiah berada di bawah tekanan dan sempat melemah di kisaran Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS menurut sejumlah laporan media. Pelemahan rupiah ini membuat barang impor semakin mahal dan menambah beban dunia usaha.
3. Inflasi dan Kenaikan Harga Barang
Kenaikan biaya energi biasanya merembet ke ongkos produksi, logistik, dan harga kebutuhan pokok. Jika harga BBM dan barang impor ikut naik, inflasi akan lebih sulit dikendalikan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat paling rentan merasakan dampaknya lewat kenaikan harga pangan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Dampak ini juga bisa memperkuat rasa tidak pasti di masyarakat karena informasi soal perang ikut membentuk ekspektasi harga.
4. Subsidi Energi dan APBN Tertekan
Pemerintah perlu menahan gejolak agar harga BBM dan listrik tidak melonjak terlalu tinggi di pasar domestik. Karena itu, beban subsidi energi bisa meningkat dan menekan ruang fiskal APBN. Reuters salah satu kantor berita yang berpusat di London melaporkan bahwa Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan hingga sekitar Rp100 triliun untuk subsidi energi akibat perang Iran.
5. Biaya Logistik dan Industri Naik
Jika harga BBM dan energi meningkat, sektor transportasi, manufaktur, dan pertanian akan menanggung biaya produksi yang lebih besar. Kenaikan ini bisa menekan daya saing perusahaan dan mengurangi margin keuntungan. Dalam jangka lebih panjang, pertumbuhan ekonomi nasional juga bisa melambat karena pelaku usaha lebih berhati-hati.
6. Daya Beli Masyarakat Melemah
Kenaikan harga pangan, transportasi, dan barang impor membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar. Bagi kelas menengah dan pekerja bergaji tetap, tekanan ini sangat terasa karena pendapatan tidak naik secepat biaya hidup. Akibatnya, konsumsi masyarakat bisa melambat dan memengaruhi roda ekonomi domestik. Dalam konteks komunikasi publik, situasi seperti ini mudah memunculkan kepanikan konsumen jika narasi media tentang krisis terus diperkuat.
Dampak Keamanan Publik dan Sosial
Konflik bersenjata skala besar tidak hanya merenggut nyawa di medan perang, tetapi juga memicu gelombang destabilisasi yang melampaui batas geografis. Menurut laporan UNHCR, setiap konflik besar rata-rata memindahkan jutaan orang dan menyebarkan instabilitas ke negara-negara yang terhubung secara geopolitik.
1. Korban Sipil dan Krisis Kemanusiaan
Korban warga sipil adalah salah satu akibat perang yang paling tragis. Serangan udara dan rudal membuat ribuan orang melarikan diri dari ibu kota Teheran, Iran dan kota-kota penting lainnya. Bersumber dari Antara News, pemandangan yang tak terhindarkan adalah masa evakuasi yang panjang dan korban jiwa massal. Berdasarkan jumlah korban yang mencapai angka 3.117 korban jiwa, lambatnya penanganan krisis kemanusiaan, kerusakan infrastruktur, serta dampak lingkungan jangka panjang, kondisi ini semakin memperparah situasi. Kondisi ini juga memicu perhatian dan solidaritas masyarakat internasional, termasuk Indonesia, serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas global.
2. Ancaman Terorisme dan Ekstremisme
Perang meningkatkan radikalisasi dan meningkatkan ancaman terorisme. Kekacauan ldimanfaatkan oleh jaringan teroris untuk mencari "rumah aman" di negara-negara yang gagal, sementara kamp pengungsi menjadi tempat baru untuk rekrutmen. Korban perang kehilangan keluarga dan tempat tinggal, kelaparan, dan kesehatan buruk karena kekurangan sumber daya seperti makanan, air, dan obat-obatan. Tidak hanya itu, perang ini juga menyebabkan ketegangan di Amerika Serikat dan Eropa terhadap masyarakat Muslim dan Timur Tengah.
3. Kecemasan Kolektif
Inflasi dan gangguan rantai pasokan menyebabkan harga pangan dan bahan bakar meningkat, meningkatkan belanja bulanan masyarakat. Sebuah fenomena pembelian panik terjadi ketika orang membeli banyak barang yang mereka butuhkan secara tiba-tiba karena takut kehabisan stok. Sangat umum melihat antrian panjang di SPBU, dan segelintir individu memanfaatkan ketidakpastian ini untuk mendapatkan keuntungan dengan menjadi reseller bensin dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan perubahan perilaku sosial masyarakat akibat tekanan situasi global.
Dampak Pendidikan
Selain dampak politik, ekonomi, dan sosial, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga berdampak terhadap pendidikan di Indonesia. Dampaknya, sejak memanasnya konflik pada 18 Februari, modal yang dikeluarkan pasar obligasi sebesar US$0,41 miliar hingga 6 Maret 2026. Kondisi kritis ini memaksa Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah luar biasa demi menyelamatkan APBN dan cadangan energi nasional. Hal ini dikarenakan pasokan minyak tersendat di selat hormuz, yang menyebabkan harga minyak dunia masih terus bergejolak.
Presiden RI Prabowo Subianto menekankan penghematan BBM di tengah konflik Timur Tengah. Pemerintah berencana memberlakukan sistem daring dan tatap muka secara bergantian. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyusun strategi tersebut. Materi yang berkaitan dengan teori akan dilaksanakan secara daring, sedangkan pembelajaran praktikum tetap dilaksanakan secara tatap muka guna menjaga kualitas pembelajaran. Namun, Wakil Ketua Komisi X DPR, MY Esti Wijayanti, langsung memberi tanggapan. Esti menyatakan ketidaksepakatannya dengan wacana pembelajaran daring. Sistem pembelajaran tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif, berkaca dari pengalaman saat pandemi Covid-19. Fenomena learning loss kembali membayangi dunia pendidikan di seluruh penjuru negeri.
Menurut studi Global Save the Children pada Juli 2020 yang dilakukan di 46 negara, khususnya Indonesia, terdapat fakta bahwa 7 dari 10 anak mengatakan jarang belajar bahkan hanya sedikit yang belajar selama pandemi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti sempat mengatakan bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami learning loss cukup serius pada masa itu.
Sumber:
Suara Muhammadiyah. (2026, Maret 13). Implikasi Perang Pada Masyarakat Sipil. https://www.suaramuhammadiyah.id/read/implikasi-perang-pada-masyarakat-sipil
ANTARA News. (2026, Januari 21). Menengok dampak kerusuhan baru-baru ini di Teheran, Iran. https://www.antaranews.com/berita/5368566/menengok-dampak-kerusuhan-baru-baru-ini-di-teheran-iran
Sindo News. (2026, Maret 8). Dampak Nyata Perang Iran dan AS-Israel Terhadap Keamanan Indonesia. https://nasional.sindonews.com/read/1684573/14/dampak-nyata-perang-iran-dan-as-israel-terhadap-keamanan-indonesia-1772920995
BBC Indonesia. (2026, Maret 4). Sejauh mana dampak perang AS-Israel dengan Iran terhadap stabilitas ekonomi-politik Indonesia? https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2jj4n1n3go
In These Times. (2026, April 8). As Workers Struggle, Our Political Class Goes All In On a Permanent War State. https://inthesetimes.com/article/permanent-war-state-iran-workers-struggle
DETIK. (2026, Februari 27). Dampak Serangan Israel-AS ke Iran, Warga Sipil Menjauh dari Zona Perang. https://www.youtube.com/watch?v=OlQmpSt6egw
Admin, A. (2026, March 18). War Without Law: A Legal and Humanitarian Assessment of the 2026 United States and Israel War against Iran -. Human Rights Institute. https://www.hriui.com/en/war-without-law-a-legal-and-humanitarian-assessment-of-the-2026-united-states-and-israel-war-against-iran/
Bahrami, M. R. (2026a, March 10). Geopolitical analysis of the imposed war against Iran. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/opinions/2026/3/10/geopolitical-analysis-of-the-imposed-war-against-iran
Byman, D. (2026, April 8). Who Is Winning the Iran War? CSIS. https://www.csis.org/analysis/who-winning-iran-war
Client challenge. (n.d.). https://press.un.org/en/2026/sc16307.doc.htm
Fang, S., & Fang, S. (2026a, April 12). The war against Iran and global risks: “Tell me how this ends.” Georgetown Journal of International Affairs. https://gjia.georgetown.edu/conflict-security/the-war-against-iran-and-global-risks-tell-me-how-this-ends/
Security, J. (2026, April 20). Collection: Iran, Israel and the United States at War (2025-2026 operations). Just Security. https://www.justsecurity.org/114556/collection-israel-iran-conflict/
Siddiqui, U. (2026, April 8). US-Iran ceasefire deal: What are the terms, and what’s next? Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/4/8/us-iran-ceasefire-deal-what-are-the-terms-and-whats-next
The Iran strikes, explained: how we got here and what it means. (2026, April 14). AJC. https://www.ajc.org/news/the-iran-strikes-explained-how-we-got-here-and-what-it-means
Tempo, “Begini Kata JK soal Dampak Perang AS-Iran terhadap Indonesia” https://www.tempo.co/politik/begini-kata-jk-soal-dampak-perang-as-iran-terhadap-indonesia-2118736
Reuters via MarketScreener / The Jakarta Post, “Indonesia estimates up to $5.9 billion needed for extra energy subsidies due to Iran war” https://www.marketscreener.com/news/indonesia-estimates-up-to-5-9-billion-needed-for-extra-energy-subsidies-due-to-iran-war-ce7e51dfda8ef224
Tempo, “BI Cermati Harga 3 Komoditas Imbas Perang Iran-Israel” https://www.tempo.co/ekonomi/bi-cermati-harga-3-komoditas-imbas-perang-iran-israel-2119088
ANTARA, “Perang AS-Iran, Indonesia hitung dampak lonjakan harga minyak ke APBN” https://www.antaranews.com/berita/5449826/perang-as-iran-indonesia-hitung-dampak-lonjakan-harga-minyak-ke-apbn
Bisnis.com, “Rupiah Terseret Konflik Iran, Analis Prediksi BI Pertahankan Level Rp17.000 https://market.bisnis.com/read/20260310/93/1959180/rupiah-terseret-konflik-iran-analis-prediksi-bi-pertahankan-level-rp17000
Kompas.com, “Harga Minyak Dunia Melonjak, Konflik AS-Iran Ganggu Pengiriman” https://money.kompas.com/read/2026/03/02/075706126/harga-minyak-dunia-melonjak-konflik-as-iran-ganggu-pengiriman
Sabang Merauke News. Gara-gara perang Iran, anak sekolah kena getah wajib belajar di rumah. https://www.sabangmeraukenews.com/berita/33270/gara-gara-perang-iran-anak-sekolah-kena-getah-wajib-belajar-di-rumah.html
Universitas Gadjah Mada. Konflik Iran dan Israel, pakar UGM soroti potensi perang global. https://ugm.ac.id/id/berita/konflik-iran-dan-israel-pakar-ugm-soroti-potensi-perang-global/
LPEM FEB UI. Dampak perang Iran-AS terhadap perekonomian Indonesia. https://lpem.org/dampak-perang-iran-as-terhadap-perekonomian-indonesia/
Detik News. Terapkan WFH untuk hemat BBM di tengah perang, RI susul negara-negara ini. https://news.detik.com/berita/d-8410890/terapkan-wfh-untuk-hemat-bbm-di-tengah-perang-ri-susul-negara-negara-ini
CNN Indonesia. Harga minyak dunia melonjak 9 persen dampak perang Iran vs AS-Israel. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260302173529-85-1333514/harga-minyak-dunia-melonjak-9-persen-dampak-perang-iran-vs-as-israe
Metro TV News, Pembelajaran Daring Digelar Lagi, Learning Loss Harus Diantisipasi Pembelajaran Daring Digelar Lagi, Learning Loss Harus Diantisipasi
[Departemen Kajian dan Aksi Strategis]
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Kabinet Laksanala